PT Best Profit Futures Cabang Pontianak

Strategi Reposisi Green Sands

green sands

Bestprofit Futures – Strategi Reposisi Green Sands

Terkadang suatu merek memiliki pangsa pasar yang rendah atau mengalami stagnasi pertumbuhan pasar, bukan karena implementasi faktor bauran pemasaran (marketing mix) yang salah. Tetapi bisa jadi karena salah dalam menentukan target pasar atau kurang memahami karakter dan keinginan dari konsumennya.

Salah satu contoh merek yang melakukan reposisi untuk mengganti target pasar konsumennya adalah merek Green Sands. Merek ini pada awalnya menyasar segmen pasar minuman kategori shandy dengan kandungan alkohol dibawah satu persen. Respon dari konsumen kurang baik sebab kategori minuman shandy kurang begitu dikenal dan disukai oleh masyarakat Indonesia sehingga penjualan dan pertumbuhan pasar Green Sands lambat dan stagnan.

Untuk mengatasi masalah ini, manajemen PT Multi Bintang Indonesia yang juga produsen minuman beralkohol merek Bir Bintang, melakukan reposisi merek Green Sands dari kategori minuman shandy menjadi minuman ringan berkarbonasi yang memiliki pangsa pasar triliunan rupiah. Reposisi merek ini dilakukan dengan meluncurkan tiga varian rasa tanpa alkohol dengan kemasan kaleng 300 ml dan botol 200 ml. Dengan dukungan komunikasi pemasaran yang gencar dan menyasar remaja sebagai target pasar maka tingkat penjualan Green Sands naik sampai tiga kali lipat.

Dianggap Minuman ‘Banci’

Dari kasus di atas dapat kita bagaimana pentingnya perencanaan dan strategi dalam menentukan target pasar (konsumen) yang kita tuju. Seperti kasus pada minuman Green Sands di atas, awalnya target yang di tuju oleh produk minuman ini adalah segmen pasar minuman shandy yaitu minuman yang berkadar alkohol di bawah satu persen. Tetapi bagi para peniknat minuman beralkohol, minuman ini di sebut minuman ‘banci’ karena minuman ini tidak dapat membuat penikmatnya merasakan ‘Fly’ seperti minuman beralkohol lainnya. Tetapi, bagi umat beragama khususnya umat muslim, minuman ini tetap saja dinilai haram dan tidak boleh di konsumsi karena mengandung alkohol meskipun berkadar di bawah satu persen sehingga perkembangan minuman ini sangat lamban dan stagnan.

Selanjutnya pihak manajemen produsen minuman ini menyadari kelemahan yang di alami oleh produknya, sehingga mengganti target pasar minuman ini dari pasar minuman shandy menjadi minuman berkarbonasi. Strategi penggantian pasar seperti ini di sebut dengan istilah Reposisi. Reposisi ini adalah salah satu alternatif yang dapat diimplementasikan oleh pemasar untuk dapat bertahan dan tampil sebagai pemenang dalam ”perang” yang terjadi di pasar konsumen.

Seperti yang dilakukan oleh pihak manajemen dari produsen Green Sands, strategi reposisi ini harus diimplementasikan pada momentum yang tepat untuk dapat memberikan hasil dan dampak yang efektif dalam peningkatan pangsa pasar. Momentum tersebut biasanya adalah sebagai berikut :
1.      Pada waktu banjirnya penawaran – penawaran produk baru.
2.      Pada saat merek yang sudah mapan tidak dapat memberikan penawaran akan fitur atau varian yang sama dengan yang telah ditawarkan oleh merek – merek baru (new brand).
3.      Ketika citra temporer dibutuhkan pada kategori – kategori produk tertentu sebagai akibat dari adanya perubahan psikografis konsumen.
4.      Jika suatu merek ingin mengganti target pasar mereka karena minat pembelian yang rendah atas suatu kategori produk.
5.      Ketika suatu merek ingin mengkomunikasikan penawaran – penawaran baru yang lebih menarik.
Pada kasus Green Sands di atas, pihak manajemen produsen Green Sands melakukan reposisi produknya di karenakan inggin mengganti target pasar mereka karena minat pembelian produk tersebut rendah.

Penjualan Mulai Meningkat Drastis

Setelah reposisi pada produk Green Sands ini dilakukan, penjualan produk ini meningkat drastis hingga naik tiga kali lipat dari penjualan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa strategi reposisi yang dilakukan oleh produsen Green Sands ini telah berhasil dan membawa minuman Green Sands menjadi salah satu minuman yang diperhitungkan keberadaannya di Indonesia.

Di tengah ketatnya persaingan, strategi Reposisi dapat menjadi alternatif solusi untuk membuat suatu merek dapat bertahan dan bahkan tampil sebagai pemimpin pasar. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan studi kasus singkat yang telah dipaparkan dan diulas sebelumnya.

Strategi reposisi ini tidak dapat diimplementasikan pada setiap kondisi persaingan pasar untuk semua kategori produk. Tetapi dalam penerapannya, ada beberapa situasi dan kondisi persaingan pasar dimana strategi reposisi tersebut merupakan solusi yang paling efektif di dalam mengatasi ketatnya persaingan dan jenuhnya pertumbuhan pasar.

Penerapan strategi reposisi tidak dapat dilakukan secara sembarang atau asal jalan saja tetapi strategi tersebut harus dilakukan secara benar dan didukung oleh seluruh komponen perusahaan. Tanpa adanya pemahaman yang benar akan konsep dasar reposisi, kepekaan akan kondisi dan perubahan pasar, pemahaman akan kebutuhan dan keinginan konsumen, serta pengenalan akan kekuatan dan kelemahan merek ataupun perusahaan induknya maka strategi reposisi ini akan ”mandul” dan hanya akan menghabiskan sejumlah uang perusahaan. (bn/dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

© 2017