PT Best Profit Futures Cabang Pontianak

Mengenal Kredit Tanpa Agunan

kta

Bestprofit Futures – Mengenal Kredit Tanpa Agunan

Bestprofit Futures –Ada satu produk perbankan yang sangat populer dengan istilah Kredit Tanpa Agunan (KTA). KTA adalah salah satu jenis kredit konsumtip yang mana fasilitas kredit ini diberikan kepada debitur dengan tujuan untuk keperluan konsumtip, maksudnya adalah debitur KTA boleh menggunakan kredit tersebut untuk membiayai keperluan pribadi. KTA biasnya diberikan kepada pegawai atau karyawan dari sebuah perusahaan atau instansi dan  bisa juga diberikan kepada para pengurus perusahaan (Direktur dan Komisaris), atau pemilik usaha, asal bisa dibuktikan berapa jumlah penghasilannya.

Bestprofit Futures – Pihak kreditur, dalam hal ini Bank pemberi fasilitas KTA biasanya tak mempermasalahkan penggunaan kredit tersebut oleh debiturnya, meski didalam aplikasi permohonannya telah di nyatakan oleh calon debitur perihal rencana penggunaan kredit tersebut. Oleh sebab itu ada beberapa bank yang memberi nama KTA ini dengan Kredit Multiguna.

Bestprofit Futures – Hal ini berbeda dengan jenis kredit konsumtip lainnya yang mengatur lebih spesifik keperluan konsumtip calon debitur. Jenis Kredit Konsumtip yang lebih khusus perutukannya itu antara lain adalah KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan Kredit Kendaraan Bermotor dimana bank memantau debitur dalam membiayai keperluannya untuk membeli rumah atau kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor), dan memastikan bahwa kredit yang diberikan benar benar digunakan oleh debitur sebagaimana peruntukannya. Bukti kepemilikan rumah atau kendaraan yang dibiayai  sudah barang tentu menjadi agunan atas fasilitas kredit yang telah diberikan.

Bestprofit Futures – Mengenai istilah Kredit Tanpa Agunan, menurut saya dapat menimbulkan salah persepsi dikalangan masyarakat. Sebab dari nama kreditnya jelas jelas tertulis ‘Tanpa Agunan’.  Memang benar tanpa agunan, dalam artian tanpa agunan tambahan.

Penjelasannya begini, didalam dunia perkreditan dikenal dua kategori agunan atau jaminan, yaitu agunan pokok (utama) dan agunan tambahan.

Bestprofit Futures – Jelas sekali perbedaan kedua kategori agunan  ini bila kita berbicara tentang Kredit produktip yaitu Kredit untuk membiayai keperluan debitur dalam kegiatannya menjalankan aktiftas usaha.

Kredit Produktip atau dikenal dengan Kredit Usaha, pada pokoknya terdiri dari Kredit Modal Kerja (KMK) yaitu untuk membiayai modal kerja usaha dan Kredit Investasi (KI) untuk membiyai keperluan investasi didalam usaha debitur.

Bestprofit Futures – Di dalam kredit Produktip, yang dinamakan agunan  pokok adalah modal kerja usaha yang dimiliki debitur. Komponen modal kerja adalah Kas, Persediaan (stok) dan tagihan (piutang)  bila perusahaan dibidang perdagangan atau tagihan atas proyek (termin) yang sedang dikerjakan bila perusahaan bergerak dibidang jasa konstruksi, konsultan dll. Nilai agunan pokok itu tercermin didalam pos Aktiva Lancar pada Neraca perusahaan debitur. Sumber pengembalian kredit melalui agunan pokok dikenal dengan First Way out, dimana debitur membayar angsuran kredit (pokok dan atau bunga) bersumber dari modal kerja usahanya.

Bestprofit Futures – Sedangkan agunan tambahan adalah berupa tanah/bangunan (harta tak bergerak) dan mesin/ peralatan dan kendaraan bermotor (harta bergerak). Jaminan tambahan yang diserahkan kepada bank, yang diutamakan adalah milik perusahaan sendiri atau milik para pengurus perusahaan (Direktur/Komisaris). Inilah yang dinamakan Second Way Out, yaitu sumber pengembalian kredit yang kedua, apabila First Way Out sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk mengembalikan kredit. Agunan tambahan akan diselesaikan (dieksekusi) oleh bank, baik dengan cara kooperatip bersama-sama dengan debitur atau tanpa campur tangan debitur yaitu melalui proes lelang (eksekusi agunan) di pengadilan (bagi bank swasta) atau melalui Kantor Lelang Negara bagi Bank pemerintah. Hasil penjualan barang jaminan atau lelang, dipergunakan untuk menyelesaikan kredit yang macet tersbut.

Dari keterangan diatas, cukup jelas perbedaan antara agunan pokok dan tambahan.

Kembali pada Kredit Tanpa Agunan (KTA), sesungguhnya kredit ini juga diperlukan agunan. Agunan yang dimaksudkan disini adalah berupa gaji atau pendapatan dari debitur atau penerima kredit. Oleh sebab itu, untuk KTA, agunan utama dan satu satunya adalah gaji atau penghasilan dari debitur. Maksudnya di dalam pemberian KTA, satu-satunya yang diharapkan bank untuk mengembalikan kredit adalah dari penghasilan atau gaji debitur.

Dalam KTA tidak dikenal lagi istilah Second Way Out, seperti apa yang telah saya sampaikan diatas, bahwa KTA memang tidak diperlukan lagi agunan tambahan. Sehingga sesungguhnya resiko bank dalam memberikan kredit ini cukup besar. Tak heran bila bank disini menetapkan bunga dengan tarip lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kredit lainnya, sebagai kompensasi tingginya resiko pemberian kredit tersebut

Bestprofit Futures – Lalu darimana bank mengetahui bahwa calon debitur mempunyai penghasilan atau gaji ? Yaitu dari bukti penghasilan, biasanya berupa slip gaji. Oleh sebab itu, syarat utama untuk memperoleh fasilitas KTA adalah calon debitur menyerahkan bukti penghasilan atau slip gaji bulan terakhir. Untuk memastikan bahwa calon debitur memang benar sebagai pegawai atau karyawan sebuah perusahaan atau instansi, maka Bank selalu melakukan verifikasi atas kebenaran data penghasilan atau slip gaji yang diserahkan, sebelum fasilitas kredit disetujui untuk dikucurkan.

Tak ada satupun Bank yang memberikan kredit tanpa adanya agunan atau jaminan. Sebab bank dalam melakukan kegiatan, khususnya dalam memberikan fasilitas kredit harus memenuhi azas Prudential Banking, yaitu prinsip kehati-hatian yang telah diatur sesuai ketentuan dari Bank Indonesia.

Bank tidak boleh memberikan kredit kepada siapapun atau pihak manapun tanpa ada penilaian atau analisis mengenai nilai agunan yang diberikan. Sebagaimana prinsip pemberian kredit adalah memenuhi 5 C, yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, Conditions. Dari ke 5 C tersebut, Collateral adalah berarti agunan atau jaminan.

Semua Bank wajib memenuhi Azas Prudential Banking, sebab pemerintah dalam hal ini diwakili Bank Indonesia yang berfungsi untuk memelihara stabilitas perekonomian negara, salah satunya dengan mengawasi operasional perbankan. Maksudnya adalah  Bank adalah lembaga kepercayaan dan sebagai komponen yang sangat vital dalam membangun stabilitas moneter dan ekonomi suatu negara harus selalu dijaga kredibilitasnya. Untuk itulah bank wajib menjalankan prinsip kehati-hatian (Prudent) agar dapat  beroperasi dengan baik.

Meskipun ada Bank Swasta (milik perorangan) atau asing, tetap saja harus mengikuti dan patuh kepada semua ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, sebab bila ada sebuah bank yang bermasalah, bisa saja berpotensi secara sistemik merusak kredibilitas lembaga  keuangan lainnya. Bila lembaga keuangan, dalam hal ini Bank sudah tidak dipercaya lagi oleh masyarakat, maka kondisi ekonomi negara tentu akan teguncang.

Apa korelasinya dengan agunan kredit ?

Bila Bank telah memberikan Fasilitas Kredit, apapun jenis kreditnya, termasuk KTA,  maka pada saat itu pula Bank telah mengambil resiko, yaitu resiko kredit tidak terbayar atau yang dikenal dengan kredit macet.

Kredit adalah pinjaman, maksudnya pada saatnya  harus dikembalikan lagi oleh debitur kepada bank sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Tentu saja resiko pembayaran kredit  tidak lancar atau macet harus dikelola dengan baik. Dari mana sumber pengembalian Kredit dalam hal ini Kredit Tanpa Agunan ? Yaitu  dari sebagian penghasilan atau gaji para debiturnya. Oleh sebab itu penghasilan atau gaji debitur adalah sumber utama penyelesaian kredit.

Tidak jarang terjadi, suatu  kondisi dimana debitur tidak mampu lagi atau tidak mau membayar angsuran kreditnya (wan prestasi). Alasan mengapa debitur wan prestasi antara lain karena sudah tidak bekerja lagi (PHK), kesulitan keuangan karena ada permasalahan pribadi dll,  atau memang disengaja oleh para  debitur ‘nakal’. Disinilah Bank mengalami kerugian, karena kredit yang diberikan macet (tidak dibayar oleh debitur).

Bila dalam suatu bank banyak terjadi Kredit Bermasalah (non Performing Loan), maka selanjutnya bisa terjadi resiko lebih besar, yaitu mengalami kebangkrutan, sebab pendapatan utama bank adalah dari bunga atas kredit yang diberikan. Bila kredit yang diberikan sebagian besar macet, maka darimana bank memperoleh bunga/pendapatan untuk membiayai operasional usahanya ?

Dari apa yang telah saya sampaikan diatas, agunan kredit adalah sangat diperlukan  apabila Bank memberikan fasilitas Kredit atau pinjaman. Tanpa agunan sama saja Bank tidak menjalankan prinsip kehati-hatian. Oleh sebab itu, istilah Kredit Tanpa Agunan, menurut saya sudah salah kaprah, dan seharusnya diganti dengan istilah lainnya, agar tidak terjadi salah persepsi/pengertian dikalangan masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

© 2017