PT Best Profit Futures Cabang Pontianak

Memahami Perdagangan Derivatif

Kontrak Derivatif

Derivatif secara bahasa berarti “Turunan”. Dalam konteks keuangan dan perbankan, secara sederhana, Derivatif adalah sebuah kontrak kerjasama antara dua pihak (pembelian, pembayaran, penjualan, pengiriman dsb), yang dapat dialihkan (diperjualbelikan) pada pihak lain. Untuk memudahkan memahami “perdagangan Derivatif” ini, dan melihatnya sebagai perdagangan biasa, saya akan memberi sebuah ilustrasi sederhana, dan bertahap.

ILUSTRASI PERTAMA : 

Pak Kurus adalah seorang peternak telur. Rata-rata memproduksi 1000 butir telur per bulannya. Pak Gendut, adalah seorang pengusaha katering, ia mendapat order untuk menyediakan 400 porsi telur balado di awal bulan depan. Pak Gendut inipun mendatangi Pak Kurus dan memintanya untuk menyediakan 500 butir telur di awal bulan depan. Kontrak perjanjian order-supplier pun ditandatangani. Harga disepakati Rp 500.000 untuk 500 butir telur. Dibayar tunai.

Pertanyaan:

1. Apakah ini legal dan halal?

– Tentu saja ini legal dan halal.

2. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut harga telur naik?

– Berapapun kenaikannya, Pak Kurus sudah menyepakati kontrak dengan harga tsb. Pak Kurus sebagai produsen telur tentu sudah tahu betul perubahan-perubahan harga dan sudah memperhitungkan harga penawarannya beserta kemungkinan perubahan harga.

3. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut produksi telur Pak Kurus merosot dan tidak dapat menyediakan 500 butir telur tersebut?

– Karena sudah terikat kontrak perjanjian, Pak Kurus wajib mengirim Pak Gendut sejumlah itu. Jika ternyata produksinya gagal, tentunya Pak Kurus harus membelinya ke peternak lain untuk memenuhi jumlah pesanan tersebut. Dan Pak Kurus memang sudah punya rekanan-rekanan sesama produsen telur, tempat ia biasa saling melempar stok.

ILUSTRASI KEDUA:

Karena Pak Gendut ini pandai dalam bergaul maka ia memiliki banyak relasi. Banyak rekannya sesama pebisnis katering yang datang pada Pak Gendut untuk dicarikan supplier. Maka Pak Gendut pun memutuskan untuk menambah line bisnisnya bukan hanya katering, tapi juga supplier untuk produk telur. Maka ketika seorang relasi Pak Gendut yang juga sesama pebisnis katering, meminta Pak Gendut untuk mencarikan stok 500 butir telur untuk awal bulan depan. Pak Gendut pun segera beraksi. Ia pun mengontak Pak Kurus untuk memesan lagi 500 butir telur untuk awal bulan depan. Sehingga ia memiliki 2 pesanan 500 butir telur dari Pak Kurus. Karena tempat usahanya kecil, akan merepotkan jika ia harus menumpuk 1.000 butir telur dan mengurus pengirimannya, maka Pak Gendut pun menawarkan pada rekannya (sebut saja Pak Jangkung) untuk membeli saja “Kontrak Pemesanan” 500 butir telur yang sudah dimilikinya, seharga Rp 600.000. Pak Jangkung pun tidak berkeberatan, karena ia memang membutuhkan supplier produk telur untuk jangka panjang. Maka Pak Gendut segera menghubungi Pak Kurus untuk menginformasikan bahwa stok 500 butir telur yang pertama dikirim ke tempat Pak Jangkung, dan yang kedua dikirim ke tempatnya. Dengan menjual (mengalihkan) Kontrak Pemesanan ini, maka urusan Pak Gendut sebagai supplier akan lebih mudah. Ia tidak perlu direpotkan dengan masalah penempatan stok dan pengiriman, namun ia juga tetap memperoleh laba (Rp 100.000). Pak Kurus yang memang sedang meningkatkan produksinya pun senang, karena ia bisa menjual produksi telurnya lebih banyak. Pak Jangkung pun tidak kuatir, karena siapapun yang memegang kontrak itu berhak atas 500 butir telur dari Pak Kurus. Semua pihak senang.

Pertanyaan:

1. Apakah ini legal dan halal?

– Tentu saja ini legal dan halal. Masing-masing pihak tidak ada yang dirugikan hak-haknya.

2. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut harga telur naik?

– Berapapun kenaikannya, Pembuat kontrak tersebut (Pak Kurus) sudah menyepakati kontrak dengan harga tsb. Pak Kurus sebagai produsen telur tentu sudah tahu betul perubahan-perubahan harga dan sudah memperhitungkan harga penawarannya beserta kemungkinan perubahan harga.

3. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut produksi telur peternak merosot dan tidak dapat menyediakan sejumlah telur sesuai kontrak tersebut?

– Karena sudah terikat kontrak perjanjian, Pak Kurus harus mengirimkan sejumlah itu. Jika ternyata produksinya gagal, tentunya Pak Kurus harus membelinya ke peternak lain untuk memenuhi jumlah pesanan tersebut.

 

ILUSTRASI KETIGA:

Pak Gundul semakin berkembang usaha supplier-nya. Selain klien pembelinya semakin banyak, omsetnya semakin besar, peternak telur yang ingin menyalurkan produksinya ke Pak Gundul pun semakin banyak. Karena kapasitas order semakin besar (misalnya saja ada 500 perusahaan katering dan ada 500 peternak telur di bawah koordinasinya), maka Pak Gundul mengatur alur perdagangan agar lebih efektif dan efisien. Jika sebelumnya semua stok yang dibelinya dari peternak-perternak dikumpulkan di gudangnya baru kemudian dikirim ke masing-masing pembeli, maka agar lebih efisien ia langsung menawarkan (menjual) Kontrak Pemesanan dari produsen-produsen telur yang sudah dibayarnya, pada perusahaan-perusahaan katering yang berminat. Ketika seseorang membeli sebuah kontrak Pemesanan, maka semua hak Pak Gendut akan beralih ke orang tersebut (ia berhak atas stok telur dalam jumlah tertentu pada tanggal tertentu). Dengan demikian Pak Gendut tidak lagi repot mengurus masalah stok dan pengirimannya. Ia akan fokus pada masalah mencari buyers dan menghimpun producers. Pihak produsen telur juga sangat diuntungkan. Karena dengan adanya kontrak tersebut, selain ia menerima pembayaran di awal yang berarti ia memiliki tambahan modal, ia juga diuntungkan karena setiap produksinya sudah pasti terjual.

Pertanyaan:

1. Apakah ini legal dan halal?

– Produk jelas: telur, harga juga jelas: sesuai kontrak, dan masing-masing pihak tidak ada yang dirugikan hak-haknya. Tentu saja ini legal dan halal.

2. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut harga telur naik?

– Berapapun kenaikannya, pembeli kontrak tersebut sudah menyepakati kontrak dengan harga tsb. Peternak yang membeli kontrak sebagai produsen telur tentu sudah tahu betul perubahan-perubahan harga dan sudah memperhitungkan harga penawarannya beserta kemungkinan perubahan harga.

3. Bagaimana seandainya di awal bulan tersebut produksi telur peternak merosot dan tidak dapat menyediakan sejumlah telur sesuai kontrak tersebut?

– Karena sudah terikat kontrak perjanjian, Pembuat kontrak wajib harus mengirimkan sejumlah itu. Jika ternyata produksinya gagal, tentunya pemegang kontrak harus membelinya ke peternak lain untuk memenuhi jumlah pesanan tersebut.

 

ILUSTRASI KEEMPAT:

Suatu ketika harga telur melonjak. Pak Gendut dibanjiri order, hingga sudah tidak ada lagi Kontrak Pemesanan yang ia pegang. Produsen telur pun banyak yang menolak untuk melakukan Kontrak Pemesanan dengan harga yang lama.

Pak Jangkung yang kebetulan memegang beberapa Kontrak Pemesanan dari Pak Gendut, berniat menjualnya pada Pak Cebol yang sedang membutuhkan stok telur. Tentu saja dengan harga saat ini. Yang berarti dua kali lipat dari harga ketika ia membelinya dari Pak Gendut sebulan yang lalu. Pak Cebol pun membeli Kontrak Pemesanan tersebut. Kemudian karena para pengusaha katering lainnya mendengar Pak Jangkung masih memiliki stok, mereka pun bersegera menawar Kontrak Pemesanan yang dimiliki Pak Jangkung , bahkan dengan harga yang lebih tinggi lagi. Di saat lonjakan harga itu, Pak Jangkung bisa mendapat keuntungan besar dari menjual kembali beberapa Kontrak Pemesanan yang ia beli dari Pak Gendut.

Apakah ini legal dan halal?

Dari empat ilustrasi tersebut, kita tentunya memahami bahwa “perdagangan Derivatif” adalah perdagangan nyata. Bukan perdagangan barang-barang semu. Bukan pula judi, spekulasi mengandalkan nasib baik dan nasib buruk. Dalam kuantitas yang besar dan cakupan yang besar, orang tidak lagi bertransaksi sebagaimana membeli permen di warung. Ini adalah bentuk alur transaksi perdagangan yang sangat efisien, akibat dari perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi membuat sistem produksi dan perdagangan semakin terspesialisasi. Kita tidak bisa lagi mensyaratkan bahwa jual beli harus “nyata” dalam arti bisa dilihat wujudnya, pembeli bertemu langsung dengan penjual, atau pembayaran langsung diserahkan bersamaan dengan barang. Kegiatan ekspor-import misalnya, akan sulit untuk dibayangkan bila harus dilakukan dengan cara pembeli dan penjual harus bertemu langsung berikut puluhan kontainer barang yang dipesan dan beberapa truk uang kontan yang harus dibawa. Produk-produk yang diperjualbelikan dalam perdagangan derivatif pun semakin berkembang, bukan hanya kontrak pembelian, tapi juga kontrak invesasi, kontrak hutang, kontrak pemilikan aset, kontrak komoditas, dsb.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

© 2017