PT Best Profit Futures Cabang Pontianak

Matinya Era Televisi di Cina

tv

Bestprofit Futures – Matinya Era Televisi di Cina

Cina dan Indonesia punya kesamaan, yaitu negara dengan populasi penduduk yang padat. Bila menyangkut soal berita atau hiburan, tentu kedua negara ini sama-sama mempunyai pilihan dalam pola konsumsi, yaitu lewat televisi atau internet. Bedanya, di Indonesia televisi masih cukup diminati, sementara di Cina televisi sudah mulai ditinggalkan.

Jika kita berbicara tentang Indonesia, sebagian besar masyarakatnya terbilang masih tergantung pada televisi untuk banyak hal, baik untuk mencari berita, hiburan, atau bahkan menonton film. Di tengah-tengah perkembangan media digital belakangan ini, nampaknya televisi masih menjadi raja.

Walau sudah banyak yang meragukan efektivitasnya—karena semakin sedikit konsumen yang mengaku masih mengonsumsi televisi, dan ketika jeda iklan banyak yang berpindah-pindah channel – televisi masih mampu meraup sebagian besar perhatian konsumen.

Terbukti dari survei yang dilakukan bagi perusahaan-perusahaan consumer goods—yang adalah pemegang belanja iklan terbanyak, televisi masih menjadi media pilihan untuk menjangkau konsumen seluas mungkin.

Memang sudah jelas terlihat pergeseran ke media-media digital seperti internet, mobile, dan lain-lain, tetapi penetrasi semua media itu masih belum maksimalmenjangkau masyarakat di Indonesia.

Jadi, para marketer di Indonesia masih disarankan untuk memanfaatkan dan manggabungkan multimedia atau sebanyak mungkin media secara terintegrasi. Ini tak lain bertujuan agar bisa menghasilkan komunikasi yang lancar sehingga mampu menyentuh konsumen dari segala sisi.

Lain halnya di Cina, pada survei China TV and Online Videos 2013 yang dilakukan ZDC, ditemukan bahwa hampir separuh dari responden yang disurvei mengaku tidak mengonsumsi televisi lagi.

ZDC melakukan surveinya lewat media internet, dengan menganalisis lebih dari 900 kuesioner di situs ZOL. Rentang usia responden yang disurvei mulai dari di bawah 18 tahun hingga lebih dari 45 tahun, dan dari berbagai profesi serta latar belakang pendidikan.

Beberapa fakta penting pun ditemukan, bahwa:

  • Hampir setengah responden tidak lagi mengonsumsi televisi.
  • Kebanyakan responden hanya suka menonton televisi pada malam hari.
  • Lebih dari setengah, atau sekitar 60%, responden mengatakan waktu yang mereka habiskan untuk menonton televisi hanya sekitar satu sampai dua jam.
  • Program televisi yang mereka tonton hanya berkisar pada berita, film, dan program-program hiburan lainnya.
  • Lebih dari 75% responden lebih memilih untuk menonton video-video online.
  • Responden yang masih mahasiswa adalah responden yang paling banyak mengatakan mereka lebih suka menonton video-video online.
  • Responden yang berusia antara 18 sampai 29 tahun juga lebih memilih untuk menonton video-video online ketimbang menonton televisi.

Melihat fakta-fakta di atas, para marketer di Cina tentu harus berpikir ulang jikahendak jor-joran menghabiskan bujet mereka untuk berpromosi di televisi. Demikian juga semua perusahaan yang mempunyai sasaran atau target market konsumen di Cina.

Mengapa televisi bisa kehilangan pamor di Cina? Tentu ada banyak alasan yang diutarakan oleh konsumen atau responden survei. Alasan yang paling utama adalah terlalu banyaknya iklan di televisi yang dianggap mengganggu kenikmatan menonton.

Responden merasa tidak punya kendali akan apa yang mereka lakukan. Lain halnya dengan video online, mereka bisa punya kendali lebih dalam memilih materi yang hendak ditonton, dan seringkali juga bisa melewati (skip) iklan-iklan yang dianggap mengganggu.

Kemungkinan besar, satu-satunya kendala dalam menikmati video online bagi konsumen Cina adalah koneksi internet yang buruk sehingga mengganggu kenikmatan menonton. Tetapi, tentu saja hal ini sudah jarang dialami, terutama oleh mereka yang sudah berdomisili di daerah perkotaan.

Satu faktor yang masih bisa memberikan pengalaman menonton (televisi) yang bagus adalah layarnya yang besar. Ini tentu saja dengan mudah bisa digantikan oleh media-media digital lainnya.

Faktor lain yang membuat konsumen masih memilih televisi adalah mereka bisa menonton bersamakeluarga. Dengan kata lain, televisi bisa lebih mudah dikonsumsi secara bersama-sama.

Ada juga alasan lain bagi beberapa konsumen, yaitu sudah terbiasa menonton televisi sehingga sudah menjadi habit bagi mereka. Televisi juga menghabiskan lebih sedikit biaya, tapi sebaliknya internet pun kini sudah semakin murah.

Survei yang dilakukan ZDC menunjukkan hanya sekitar 23,2% responden yang masih menonton televisi setiap hari; 20,8% lagi masih cukup sering menonton televisi walaupun tidak setiap hari; tetapi sebesar 45,4% responden mengaku tidak pernah menonton televisi lagi. Sementara sisanya tidak mempunyai opini yang jelas.

Program-program televisi seringkali dianggap membosankan sehingga tidak dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan audiens di Cina. Mereka juga kesulitan menyesuaikan waktu di sela-sela kesibukan sehari-hari untuk menikmati program televisi yang mereka sukai. Ini sama saja mereka merasa tak punya kendali dalam mengonsumsi program televisi.

Bagi kebanyakan anak kecil, mereka pun banyak diatur orang tuanya dalam menonton televisi karena orang tua banyak menyaring program televisi yang dianggap tidak cocok untuk anak-anak mereka.

Di balik semua itu, alasan utama yang sudah disebutkan tadi adalah terlalu banyaknya iklan di televisi sehingga mengganggu kenikmatan menonton.

Kondisi di Cina dan Indonesia sebenarnya tidak begitu jauh berbeda, tetapi karena penetrasi internet, media sosial, mobile, serta media-media digital lainnya belum secepat dan seluas di Cina, televisi di Indonesia masih mendominasi dan masih menjadi pilihan untuk konsumen.

Sementara Cina—yang infrastruktur digitalnya boleh dibilang berjalan lebih cepat dan stabil, sudah mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen untuk meninggalkan televisi dan beralih ke media-media digital lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

© 2017